Test Ride Yamaha Freego 125 : Diajak Nanjak Ke Pacet!

Test Ride Yamaha Freego 125 : Diajak Nanjak Ke Pacet!

Shared by Autonetmagz.com for IIMS

AutonetMagz.com – Kalian semua kenal produk Yamaha yang namanya Yamaha Freego 125? Kalau kalian kenal, atau malah punya unitnya, maka bisa dipastikan kalian adalah kaum urban yang butuh bagasi besar. Yap, sejak awal kemunculannya, Yamaha Freego 125 selalu mengunggulkan kapasitas bagasinya yang diklaim setara Yamaha N-Max 155, padahal motor ini adalah motor 125cc. Nah, kali ini kami kami tidak akan komentar banyak terhadap kapasitas bagasinya, namun peformanya saat diajak jalan keluar kota.

PT Surya Timur Sakti Jatim (STSJ) selaku authorized dealer Yamaha di Jawa Timur dan NTB mengajak tim AutonetMagz untuk menguji peforma dari Yamaha Freego 125. Kali ini, touring tipis – tipis ini diadakan dengan rute dari Surabaya ke arah dataran tinggi Pacet, lalu kembali lagi ke Surabaya. Bagi kalian yang bermukim di Jawa Timur, tentu kalian tahu bahwa jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Namun, medan yang akan kami lalui jelas memberikan tantangan tersendiri. Kawasan Trawas – Pacet memang menjadi salah satu ‘momok’ bagi skutik karena tanjakan dan turunan yang terjal.

Oleh karenanya, pihak STSJ ingin membuktikan kepada kami bahwa Yamaha Freego 125 kuat untuk diajak naik tanjakan ataupun melibas turunan, sambil tetap mempertahankan catatan konsumsi BBM. Kali ini, kami menggunakan Yamaha Freego 125 versi standar. berhubung kami belum pernah melakukan review mengenai produk ini, kita akan bahas dahulu untuk desain dan kelengkapan dari si skutik ini. cekidot.

Sekilas Pandang

Yamaha Freego 125 usianya sudah mencapai 2 tahun di Indonesia pada akhir Oktober silam. Dan tidak sulit menemukan si skutik di jalanan Indonesia. Secara desain, Yamaha Freego 125 memang cukup unik. Bodynya terlihat gambot, namun kaki – kakinya mungil. Velg motor ini berdiameter 12 inci, namun tapaknya mencapai 100/90 di depan dan 110/90 di belakang. Jadi, secara umum Yamaha Freego 125 terlihat gemuk. Apalagi, bagian depannya terlihat besar karena ada saluran pengisian bahan bakar di sisi kiri motor. Eits, apakah kalian mengira tangki bensin Yamaha Freego 125 ada di sisi depan? Kalau iya, kalian salah.

Tangki bensin Yamaha Freego 125 diletakkan persis di bawah dek kaki pengemudi. Jadi, posisinya ada di sisi bawah dengan ukuran 4,2 liter secara total. Lho? Kan jadi bahaya? Tenang, Yamaha tentu sudah memikirkan resikonya. Tangkinya diberi pelindung besi yang ada rongga-nya, sehingga terlindungi dengan baik. Lampu utama motor ini sudah menggunakan LED, walaupun sisanya tidak. Lampu sein, lampu belakang, dan lampu kecilnya masih halogen. Yang menarik, motor ini punya lampu hazard dengan tuas diatas tuas starter. Sebuah fitur yang bahkan tidak dimiliki oleh Yamaha XSR 155 yang pernah kami coba.

Untuk desain samping dan belakangnya terasa biasa saja, khas skutik gemuk. Namun, sekilas kami merasa deja vu dengan Honda Spacy di masa lalu. Duduk di atas motor ini, kita akan langsung disugui sebuah panel instrumen digital yang mungil dengan informasi seperti speedometer, odometer, tripmeter, pengukur voltase aki, sisa bbm, dan indikator eco riding. Di sisi kanan dan kiri ada indikator ABS, smartkey, dan start stop yang sayangnya tidak ada semua di motor yang kami gunakan. Di sisi kanan ada lubang kunci dengan tombol pembuka bagasi dan tutup tangki BBM. Sedangkan power outlet ada di sisi atas.

Kami pun mencoba membuka bagasi motor ini di bawah joknya, dan cukup terkejut dengan ukurannya. Memang bagasinya tidak sedalam bagasi motor matik pada umumnya, namun ukurannya panjang. Bahkan, kami pun bisa meletakkan backpack berisi peralatan dan kamera dengan aman di bawah bagasinya. Thanks to tangki bensin yang ada di bawah dek. Cukup dengan overview motornya, kami pun segera mencoba motor ini dan bergerak keluar dari Kota Surabaya

Let’s Ride

Mulai berjalan dengan Yamaha Freego 125, kami mengawali perjalanan dari Yamahaland yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Surabaya. Dari sana, kami bergerak bersama dengan Komunitas Mojopahit X-Max Rider (MOXER) menuju ke Yamaha Putra Jaya Porong. Di awal perjalanan ini, kami pun menikmati sensasi berkendara skutik Yamaha Freego 125 di rute dalam kota. Motor ini suspensinya cukup stiff, ditambah lagi ban yang menggunakan tapak lebar walaupun profilnya tergolong tebal yaitu 90. Untuk selap selip, motor ini jelas lebih dari cukup.

Mulai bergeser ke Sidoarjo, hingga ke arah Porong, motor mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Dari ini kami rasakan power delivery dari mesin 125cc milik Yamaha Freego 125 masih mirip dengan beberapa motor 125cc BlueCore Yamaha lainnya. Kalau dibandingkan dengan dengan Yamaha Soul GT125, entakan mesin dari Yamaha Freego 125 terbilang lebih halus. Nah, karena torsi maksimal motor ini ada di 5.500 rpm, maka jalanan Sidoarjo – Porong bisa dilibas dengan mudah. Hanya saja kami tidak gas pol karena ada perhitungan konsumsi BBM di akhir.

Untuk pengereman, Yamaha Freego 125 dibekali cakram di depan dan tromol di belakang, standar skutik 125cc. Peforma pengeremannya tergolong biasa, namun masih bisa diandalkan. Lepas dari pos pertama di Yamaha Porong, kami mulai melaju ke Trawas via Pandaan. Disini motor mulai diuji peformanya untuk melibas rute tanjakan. Sejauh yang kami rasakan, peforma mesin dari Yamaha Freego 125 masih cukup untuk melibas tanjakan, bahkan tanjakan di area Trawas yang juga menikung. Terakhir kali kami melibas tanjakan ini dengan Nissan Terra yang tentunya worryless.

Namun saat menunggangi Yamaha Freego 125, awalnya kami agak was was. Apalagi jalanan cenderung padat karena long weekend. Motor pun sempat beberapa kali harus melambat di posisi menanjak cukup curam, namun semua bisa diatasi dengan baik. Kami pun cukup pede untuk melibas tanjakan lain. Poin menarik disini ada pada tapak ban lebar yang enak digunakan menikung, dan adanya eco indicator untuk melihat seberapa eco riding gaya berkendara kita. Yap, bagaimanapun konsumsi BBM menjadi bagian penting di touring kali ini.

Kami pun sampai di Tamah Ghanjaran, lalu melibas rute berikutnya ke GardenHutte. Pasca dari GardenHutte, rombongan melanjutkan perjalanan ke Warung Madjoe Mapan di kawasan Pacet. Sayangnya, hujan turun dengan derasnya dan membuat beberapa rombongan akhirnya terpisah. Kami dengan beberapa rekan media pun menepi untuk menggunakan jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan. Sayangya lagi, kami sempat nyasar beberapa kali sehingga motor menghabiskan lebih banyak BBM dibandingkan personil lain. Alhasil, kami hanya meraih 47,2 Km/Liter, sedangkan yang terbaik mencapai 55,9 Km/Liter.

Setelah selesai mengisi perut di Warung Madjoe Mapan, kami turun ke arah Mojokerto. Disinilah tantangan baru muncul. Lokasi berkabut, hujan deras, dingin, dan licin, plus 1 bahaya lainnya yaitu turunan. Yap, Skutik ini harus melibas turunan fenomenal di kawasan Pacet yang sudah banyak memakan korban rem blong. Kami pun bisa melibas turunan kondang tersebut dengan aman. Rem dan ban serta pembawaan rider jadi koenci. Kami pun turun ke arah Mojokerto dan beristirahat di Yamaha YES Pacing. Setelah istirahat sejenak, kami berpisah dengan tim MOXER, dan bersiap kembali ke Surabaya.

Kali ini, kami mengambil rute yang berbeda, yaitu Mojokerto – Surabaya via ByPass Mojokerto dan Krian. Yap, kalian yang bermukim di Jatim tentu tahu bahwa jalur ini adalah jalur truk dan angkutan berat lainnya. Di kesempatan ini, rekan media lain menggeber Yamaha Freego 125 (karena sudah tidak ada perhitungan konsumsi BBM). Tim AutonetMagz yang ada di tengah rombongan pun mencoba melihat peforma motor ini di jalanan lapang. Motor melaju di kecepatan 60 – 70km/jam dengan mudah. Namun kami harus melibas jalanan tidak rata plus genangan air dari hujan.

Disinilah kami merasakan bahwa kaki – kaki bertapak lebar dari Yamaha Freego 125 memberi peran penting, apalagi saat harus terus steady dengan lalu lintas sekitar. Akhirnya, kami pun sampai di Surabaya pukul 7 malam, mengakhiri turing hampir 11 jam lamanya dengan selamat. Dan barang bawaan kami masih aman dari hujan berkat bagasi motor yang mampu menampung backpack kami.

Kesimpulan

Yamaha Freego 125 adalah motor yang paling cocok untuk urban commuter. Konsumsi BBM-nya bisa diandalkan, dan kaki – kaki yang lebar memberikan traksi yang bagus di jalanan untuk skutik seukurannya. Bagasinya juga tergolong lega untuk kalian yang suka membawa bawaan berlebih, kecuali membawa beban hidup. Mesinnya juga tergolong cukupan untuk kebutuhan dalam kota, ataupun sedikit keluar kota. Hanya saja, tentunya masih ada catatan untuk motor ini. Desainnya bukan selera semua orang, lalu panel instrumen juga terlalu minimalis.

Overall, bagi kalian yang ingin skutik berbagasi besar, namun ogah membeli maxi scooter, motor ini bisa kalian pertimbangkan. Kami berterima kasih pada pihak STSJ atas kesempatan mencoba motor ini sejauh kurang lebih 140 km. Jadi, bagaimana menurut kalian? Ada owner Yamaha Freego 125 disini? Yuk bagikan suka duka kalian.

Original Article